awTJ8oIyB94nutbC1bJoZn5dMRTh5VC3z3VvpzU4
64y6kMGBSVhmzQfbQP8oc9bYR1c2g7asOs4JOlci

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Bookmark

Cerpen Sedih Perpisahan: Cinta yang Terpisahkan oleh Takdir

Cerpen adalah sebuah cerita nyata atau sebuah cerita karangan yang di buat berdasarkan pengalaman pribadi atau sebuah kisah nyata yang sering terjadi di lingkungan sekitar pengarang cerpen tersebut, dan bisa juga berdasarkan imajinasi seseorang yang di tulis menjadi sebuah cerita panjang maupun pendek seperti contohnya novel dan cerpen.

Tidak Perlu Berlama-Lama Berikut adalah Cerpen Singkat Yang Bercerita Mengenai Perjalanan Asmara seseorang yang Putus karna ajal. Di jamin Cerpen Berikut mengharukan sekaligus menarik.


Dhia melangkah ragu saat pertama kali menginjakkan kaki di Bagan, sebuah kota di ujung Sumatra yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kota ini bernapas lewat aroma garam dan deru mesin kapal nelayan. Sebagai gadis yang cenderung pendiam dan sedikit apatis, Dhia merasa asing di tengah riuh rendah kota penghasil ikan tersebut.

Berbeda dengan Dhia, ibunya adalah sosok yang hangat. Dalam waktu singkat, sang ibu telah akrab dengan para tetangga, berbagi tawa di teras rumah sembari menikmati makan siang bersama. Namun bagi Dhia, dunia barunya hanyalah sebatas daun pintu rumah yang sering ia duduki sendirian.

Beberapa bulan berlalu, tembok keangkuhan Dhia perlahan runtuh. Ia mulai memiliki lingkaran pertemanan kecil. Suatu sore, saat matahari mulai condong ke ufuk barat, Dhia dan teman-temannya asyik bermain kejar-kejaran. Begitu serunya permainan itu hingga mereka abai pada rona merah di langit yang menandakan senja hampir usai.

"Hei! Sudah hampir Magrib, sebaiknya kalian pulang," sebuah suara berat menegur dari kejauhan.

Seorang pemuda, yang usianya tak terpaut jauh dari mereka, berdiri di sana. Dhia yang merasa terganggu spontan membalas dengan ketus, "Kenapa? Memangnya ini jalan milikmu? Jangan ikut campur!"

Alih-alih marah, pemuda itu justru tersenyum tenang. "Kakak hanya khawatir. Sebentar lagi gelap, orang tua kalian pasti cemas jika kalian belum kembali. Tidak baik anak gadis masih di luar saat hari mulai malam."

Meskipun kesal, Dhia terpaksa mengalah. Namun, pertemuan itu rupanya menjadi awal dari sesuatu yang tidak ia duga. Keesokan harinya, mereka bertemu lagi. Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Afa. Sifat Afa yang sabar dan murah senyum perlahan mencairkan hati Dhia yang beku. Dari debat kecil di pinggir jalan, tumbuhlah benih-benih rasa yang membuat jantung Dhia berdegup lebih kencang setiap kali nama Afa melintas di pikirannya.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mengakui perasaan masing-masing. Di bawah langit Bagan, mereka merajut kisah sederhana. Dhia yang tadinya judes kini sering tersipu malu saat Afa menghubunginya lewat pesan singkat.

Hingga suatu malam, Afa mengajak Dhia ke sebuah taman kota yang sunyi. Dengan sepeda motornya, mereka membelah malam. Afa membawa sebuah gitar, katanya ada lagu yang ingin ia nyanyikan khusus untuk Dhia. Di bawah remang lampu taman, Afa memetik gitarnya. Suaranya mengalun lembut menyanyikan lagu Camelia.

Namun, di tengah harmoni itu, Dhia menyadari sesuatu yang janggal. Wajah Afa tampak sangat pucat, bahkan di bawah cahaya lampu yang redup sekalipun.

"Kak, wajah Kakak pucat sekali. Kakak sakit?" tanya Dhia cemas.

Afa menghentikan petikan gitarnya, lalu tersenyum—senyuman yang terasa sangat tulus namun menyimpan kelelahan yang dalam. "Tidak apa-apa, Dik. Hanya sedikit tidak enak badan. Satu lagu lagi ya?"

Dhia bersikeras untuk pulang karena firasat buruk mulai menghantuinya. Malam itu, mereka berpisah dengan perasaan yang mengganjal di hati Dhia. Sepanjang malam, kegelisahan membuat Dhia sulit memejamkan mata.

Keesokan paginya di sekolah, atmosfer terasa berbeda. Dhia melihat kerumunan siswa di depan mading. Seorang teman menghampirinya dengan wajah sendu, memintanya melihat pengumuman yang tertera. Jantung Dhia serasa berhenti berdetak saat membaca sebaris nama di sana: Afa Rianfa. Pemuda itu telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Dunia Dhia runtuh seketika. Firasat buruk semalam terjawab dengan kenyataan yang paling pahit. Ia mengurung diri, menolak makan, dan jatuh sakit. Pertemuan di taman itu rupanya adalah konser terakhir Afa untuknya, sebuah salam perpisahan yang dibungkus dengan melodi indah.

Waktu memang menyembuhkan, namun tidak menghapus kenangan. Bertahun-tahun berlalu, Dhia telah belajar untuk ikhlas. Kini ia telah membuka hati untuk orang baru, namun di satu sudut batinnya yang paling sunyi, nama Afa Rianfa akan selalu tersimpan sebagai cerita cinta pertama yang abadi, sedalam laut di kota Bagan yang dulu mempertemukan mereka.

Posting Komentar

Posting Komentar