awTJ8oIyB94nutbC1bJoZn5dMRTh5VC3z3VvpzU4
64y6kMGBSVhmzQfbQP8oc9bYR1c2g7asOs4JOlci

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Bookmark

Dongeng Raja Rimba dan Kawanan Singa: Kisah Persahabatan di Atas Bukit

Kali ini saya akan menceritakan sebuah cerita yang berkaitan dengan Banjir, Karna sekarang Banjir sudah banyak terjadi di berbagai macam daerah. jadi tidak salah nya jika saya menceritakan sedikit tentang Dongeng  Raja Rimba Yang Bijaksana Bersama Teman-Temanya Yang Terjebak Dalam Banjir Besar Berikut ceritanya.

Sang Penjaga Rimba dan Kastil di Atas Bukit

Di sebuah hutan pedalaman yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia, hiduplah seorang pria bijaksana yang dijuluki masyarakat desa sebagai Sang Raja Rimba. Meski menyandang gelar raja, ia hidup dalam kesunyian. Tak ada sanak saudara, hanya kicauan burung dan deru angin yang menemaninya setiap hari.

Suatu pagi, rasa sepi mulai mengusik hatinya. Ia pun melangkah jauh ke dalam lebatnya belantara, berharap menemukan kawan untuk berbagi cerita di gubuk tuanya. Namun, setelah berhari-hari berkelana, tak seorang pun ia temui. Nyaris putus asa, Sang Raja bergumam dalam hati, "Jika tak ada manusia, biarlah hewan-hewan liar yang menjadi sahabatku."

Langkahnya terhenti di depan sebuah gua raksasa yang tampak gelap dan misterius. Dengan penuh keberanian, ia berseru, "Halo! Adakah penghuni di dalam sana? Jika ada, keluarlah. Aku datang dengan niat baik."

Hening sejenak, lalu sebuah auman dahsyat menggetarkan dinding gua. Alih-alih lari ketakutan, Sang Raja justru masuk lebih dalam. Di sana, ia bertemu dengan kawanan singa yang tampak letih.

"Hai, Singa. Kenapa engkau terus mengaum dengan nada gelisah?" tanya Sang Raja lembut.

Singa itu hanya membalas dengan geraman rendah, seolah tak percaya ada manusia yang berani mendekatinya. Sang Raja tersenyum, "Aku tahu rahasiamu. Kalian bisa memahami bahasaku, bukan? Keluarlah, jangan bersembunyi di kegelapan ini."

Terkejut karena penyamarannya terbongkar, Sang Singa akhirnya menyahut dengan bahasa manusia, "Bagaimana kau bisa tahu, wahai manusia?"

"Karena aku adalah penjaga hutan ini. Aku memahami setiap napas di rimba ini," jawab Sang Raja tenang. "Sudah berapa lama kalian terjebak di sini?"

"Tiga hari," keluh Sang Singa. "Kami bertahan hidup dengan sisa makanan seadanya. Kami mendengar kabar dari merpati bahwa banjir bandang akan menelan hutan ini. Kami takut."

Sang Raja menghela napas. "Gua ini berada di dataran rendah. Jika banjir datang, gua ini justru akan menjadi perangkap air bagi kalian. Ikutlah denganku ke gubukku, aku akan menjamin keselamatan kalian."

Setelah meyakinkan kawanan tersebut, Sang Raja memandu mereka menempuh perjalanan jauh menuju sebuah bukit tinggi. Di tengah jalan, dengan penuh kasih, Sang Raja mencari buah-buahan dan air segar untuk menghilangkan rasa lapar dan haus kawan-kawan barunya.

Sesampainya di puncak bukit, mereka dikagetkan oleh kehadiran seorang asing bersama seekor burung bangau yang sedang berteduh. "Siapa engkau?" tanya Sang Raja.

"Aku hanya pengembara yang mencari perlindungan dari bencana banjir," jawab orang itu dengan sopan.

Belum sempat percakapan berlanjut, suara gemuruh terdengar. Dari atas bukit, mereka menyaksikan air bah meluap dahsyat, menyapu seluruh hutan termasuk gubuk kesayangan Sang Raja hingga rata dengan tanah.

Sang Raja tertegun dan menunduk sedih. "Maafkan aku, Singa. Aku gagal menepati janjiku untuk memberi kalian tempat tinggal. Gubukku kini telah tiada."

Sang Singa mendekat dan menyentuh tangan Sang Raja. "Jangan bersedih. Kau telah memberikan hal yang lebih berharga: nyawa dan keselamatan kami. Itu sudah lebih dari cukup."

Melihat ketulusan tersebut, sang pengembara angkat bicara, "Aku tidak punya tempat tinggal tetap, namun aku tahu cara membangunnya. Bagaimana jika kita semua bergotong royong membangun tempat tinggal baru di puncak bukit ini?"

Mata Sang Raja berbinar. Akhirnya, manusia, hewan, dan sang pengembara bahu-membahu. Singa mengangkat batang kayu besar, sang pengembara menyusun atap, dan Sang Raja merancang pondasi. Tak lama kemudian, berdirilah sebuah rumah kokoh di atas bukit yang aman.

Sejak hari itu, kesunyian Sang Raja sirna. Di atas bukit tersebut, mereka hidup bahagia dalam harmoni, membuktikan bahwa perbedaan bangsa dan jenis tak menjadi penghalang bagi sebuah persahabatan yang tulus.

Posting Komentar

Posting Komentar